Revenue Beauty and The Beast

Revenue Beauty and The Beast

Oleh: Anik Sri Ernawati, 2020-08-24

<p><em>Revenue Beauty and The Beast</em> dengan topik pembahasan yang berfokus pada apa saja cara yang harus dilakukan oleh Chief Revenue Officer, contoh variasi <em>revenue model</em> dan tentunya model apa yang menarik dan model yang harus dihindari dalam strategi <em>revenue model</em>.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Berlatar belakang dari Cookpad dan Kulina, tentunya pembahasan kali ini juga berdasarkan pengalaman dan strategi dari Cookpad dan Kulina. Di awal pembicaraan, tentunya sebelum membahas bagaimana strategi, Andy menjelaskan apa itu Cookpad dan bagaimana distribusi penggunanya di seluruh dunia.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Andy menjelaskan bahwa sebenarnya, Cookpad sudah ada sejak tahun 1997, bahkan sebelum ada google, sebenarnya sudah ada cookpad, kemudian baru beberapa tahun terakhir Cookpad memulai untuk mengambangkan sayapnya ke seluruh dunia, yang hingga sekarang telah terdapat lebih dari 100 juta pengguna yang tersebar di lebih dari 70 negara dengan 30 bahasa dan jumlah resep yang telah mencapai 6 juta resep. Satu dari dua orang Jepang merupakan pengguna Cookpad dan pengguna Cookpad di Indonesia merupakan pengguna terbesar kedua setelah Jepang, yang mana mencapai 20 juta user.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Penghasilan utama Cookpad berasal dari <em>advertising</em> dan <em>subscription</em> Cookpad. Cookpad juga berfokus pada membuat <em>platform</em> yang menservice pengguna yang meloncati iklan, sehingga memutuskan tidak menerima iklan di Indonesia dan Jepang.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Hal yang menarik dari Cookpad adalah strategi <em>survive</em> yang diterapkan, mengingat banyak sekali kompetitor yang menyediakan resep makanan secara gratis. Andy kemudian menjelaskan <em>common revenue model</em> sebagai pengantar dari jawabannya. Secara umum, sebenarnya terdapat 26 jenis <em>revenue model</em>, namun untuk topik bahasan kali ini, pembahsan hanya lingkup <em>common revenue model</em> yang sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut. Keempat <em>revenue model</em> tersebut adalah:</p> <ol> <li><em>Advertising.&nbsp;</em>Advertising ini berarti bahwa platform mendapatkan profit dari seseorang yang memasang iklan, Dalam hal ini, cookpad juga melakukan hal sama, misalnya advertising berupa brand dari bahan yang digunakan dalam resep.</li> <li><em>Marketplace.&nbsp;</em>Contohnya tokopedia, bukalapak, kulina, yang menggunakan strategi transaction fee, premium listing fee, dan 3rd party fee inside platform, misal kita pesen makanan, dibayar dengan virtual money, maka platform tersebut mendapat komisi dari penyedia jasa visual money tersebut. Jadi ketika usernya sudah banyak maka monetisasinya bisa bermacam-macam.&nbsp;</li> <li><em>SaaS.&nbsp;</em>Value creation bukan dari atom (bahan baku, dimasak, dijual), tetapi dari bites, program komputer yang dijadikan <em>service</em>, yang kemudian dijual, ada <em>subscription</em>, <em>metered</em>, dan <em>freemium</em> yang dapat berbayar maupun gratis. Perbedaan bayar dan gratis di Cookpad adalah jika gratis, tampilan resep akan diurutkan dari atas adalah yang paling baru di <em>upload</em>, sedangkan jika berbayar diurutkan yang paling atas adalah resep yg sudah <em>proofen</em>, yang telah dimasak banyak orang dan telah teruji. Keunggulan Cookpad yg lain adalah bisa <em>search</em> dengan menuliskan bahannya saja, tidak harus nama resep, sehingga pengguna dapat menemukan berbagai resep jenis makanan secara sekaligus dalam satu kali pencarian.</li> <li><em>Commerece</em>. Berkaitan dengan <em>online store</em> yang ada di internet yang jual beli produk, tidak teralu <em>scaleable</em>, karena ada produk fisik, yang mengharuskan upaya produksi yang cukup rumit.</li> </ol> <p>&nbsp;</p> <p>Andy juga menjelaskan, apa yg membedakan Cookpad dengan kompetitior. Simple-nya rahasianya adalah harus terdapat <em>product/market/price fit</em>. Kompetitor lain seperti youtube, google, adalah <em>conten creator</em> yang targetnya hanya di sisi <em>beauty</em>, konten dilihat sebanyak-banyaknya, bukan untuk dipraktekkan. Sedangkan di Cookpad, pengguna yang mencoba-coba resep dan pengguna hanya melihat-lihat, akan terseleksi oleh algoritma Cookpad, dan hal itu dijual ke orang-orang yang mencari resep anti gagal. Cookpad memang tidak memberikan harga untuk akses masuk Cookpad, tetapi memberikan harga untuk algoritma pengurutan resep tersebut. Selama harga tersebut cocok dengan market yang ada, ya tidak akan menjadi suatu masalah.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kalau dibandingkan <em>revenue model</em> Cookpad dengan <em>revenue model</em> Kulina bagaimana? Andy menjelaskan bahwa <em>revenue model</em> kulina lebih ke <em>marketplace.</em> <em>Revenue model</em>-nya yang dijual ke <em>user</em> itu adalah <em>transaction fee</em> dan profit, disini, yang dilakukan kulina adalah optimasi dari <em>delivery cost</em> yang mana tidak ditampilkannya <em>delivery cost</em> secara terpisah, namun, harga yang tampil adalah harga <em>product+profit+delivery fee</em>.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Menurut Andy, satu-satunya cara untuk menentukan harga apakah cocok untuk pangsa pasar tertentu adalah <em>habit test</em>. Melalui internet dapat dilakukan <em>habit test</em>, apalagi masalah <em>pricing</em>, bisa saja kita punya 1 store yang sama, dengan <em>pricing</em> yang berbeda dan ditujukan ke orang yang berbeda pula, nah dari sana bisa dilihat mana yang profit yang tidak.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Selain itu, hal yang cukup penting adalah bagaimana kita tahu ada kompetitor, tahu yang mana yang membuat berhentinya <em>subscription</em>? Bukan hanya masalah harga, tapi bisa saja karena layanan kita yang kurang memuaskan. Ini pertanyaan besar yang membutuhkan beberapa matriks untuk menjawab pertanyaan tersebut. Misalnya ada <em>charmrate</em> yang ada <em>acquisitions product</em> yang mana ada berapa rupiah yang di <em>spend</em> untuk mendapat 1 customer. Ada juga <em>LTV - Live time value</em>, misalnya di cookpad biaya berlangganan dalam 1 bulan sebesar Rp.20,000,- , rata-rata <em>user</em> akan berlangganan selama 2 tahun, kemudian setelah jangka waktu 2 tahun ketika <em>user</em> ini sudah ahli memasak, maka dia akan memutuskan berhenti berlangganan. Nah misalnya Rp.20,000,- ini dikurangi biaya lain-lain, sisa Rp.15,00,-, nah itu yang dinamakan LTV. Penggunaan <em>Ads</em>, misal untuk sekali iklan mengeluarkan biaya Rp.10,000,-, tetap tidak akan menjadi masalah jika akan melakukan iklan 1 juta kali asalkan modalnya bisa kembali. Fokusnya adalah berapa yang akan kita dapatkan selama dia membeli prodak kita dan berapa biaya yang kita keluarkan. Selama LTV ini lebih besar, hal tersebut tidak akan menjadi masalah.</p>