Artikel Kami

Sharing Langsung Jarak Jauh (SLJJ)

Sharing Langsung Jarak Jauh (SLJJ)

Oleh Yusufia Asmarani Ashar, 2020-10-17

<p style="text-align:justify"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Arial"><span style="color:#000000">Untuk menandai berakhirnya masa perkuliahan pada batch 1, Kuliah Kewirausahaan Sosial UGM mengadakan Event penutupan perkuliahan bertema sociopreneurship. acara yang dilaksanakan pada 2 Mei 2020 ini berupa Sharing Langsung Jarak Jauh dengan tajuk &ldquo;Think Beyond Pandemic: Social, business, entrepreneurship&rdquo;. Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara KS ugm dengan narasi yang merupakan sebuah kanal berita terkemuka di indonesia. Sharing langsung jarak jauh kali ini dapat disaksikan secara live serta disiarkan di kanal Youtube Narasi dan Najwa Shihab. Event yang diadakan oleh Kewirausahaan Sosial UGM dan Narasi kali ini berbentuk talkshow, Music performance, yang disertai dengan penggalangan dana untuk amal.&nbsp;</span></span></span></p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align:justify"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Arial"><span style="color:#000000">Walaupun terhalang oleh pandemi yang kala itu baru saja berlangsung, acara SLJJ yang dilangsungkan ini dapat berjalan dengan lancar dan tetap mampu memancing antusiasme berbagai kalangan, baik masyarakat umum maupun peserta kuliah Kewirausahaan Sosial UGM sendiri. dalam acara yang memiliki total 8 sesi talkshow ini, diundang 19 bintang tamu dari latar belakang yang beragam. dari belasan narasumber yang hadir, beberapa diantaranya adalah Najwa Shihab, Boy William, Raditya Dika, Kaesang Pangarep, dan dr. Tirta. selain pembicara tersohor dari berbagai bidang, hadir pula empat musisi yang ikut meramaikan acara SLJJ kali ini, yaitu Bondan Prakoso, Saykoji, Andmesh, dan Aviwkila.&nbsp;</span></span></span></p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align:justify"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Arial"><span style="color:#000000">Acara ini dibuka pada pukul 12.00 dengan penampilan oleh musisi Bondan Prakoso. Sesi pertama dan kedua dilakukan mulai pukul 12.15 hingga 12.45. penampilan oleh para musisi yang hadir diadakan setiap 2 sesi untuk menjaga antusiasme audiens dalam mengikuti rangkaian acara SLJJ. total sesi talkshow pada acara ini adalah sebanyak 8 sesi yang memiliki tema beragam seputar sociopreneurship. sesi terakhir yang mengakhiri&nbsp; SLJJ kali ini berupa dialog antara najwa shihab dengan bapak Pratikno selaku Menteri Sekretaris Negara.</span></span></span></p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align:justify"><span style="font-size:11pt"><span style="font-family:Arial"><span style="color:#000000">dengan berakhirnya sesi dialog pada pukul 17.45, berakhir pula rangkaian acara SLJJ 2020. dalam program donasi yang digalangkan berhasil terkumpul dana sebesar Rp 555.555.555,- yang berasal dari audiens umum SLJJ maupun mahasiswa Kuliah Kewirausahaan Sosial UGM. Hasil dari penggalangan dana yang sudah terkumpul sepenuhnya disalurkan untuk penanganan Pandemi COVID-19, penyaluran sembako, dan beberapa kegiatan amal lainnya. Acara ini disponsori oleh bank BRI dan Telkomsel dengan mitra acara DPP UGM, PIKA UGM, dan Creativepreneur. untuk publikasi acara, acara ini berhasil menggandeng beberapa media partner, yaitu Radio Istakalisa Yogya, Surat Kabar Harian Jogja, serta Radio Swaragama.</span></span></span></p> <p>&nbsp;</p>

Selengkapnya
Laporan Penyaluran Donasi Acara Penggalangan Dana Event SLJJ

Laporan Penyaluran Donasi Acara Penggalangan Dana Event SLJJ

Oleh Ageng Sajiwo, 2020-10-05

<p>Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melancarkan dan mempermudah segala bentuk kegiatan penyaluran donasi sehingga dapat terlaksana dengan baik.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Tentunya, dengan semangat kolaborasi bersama 23 Lembaga Penyaluran mulai dari komunitas, organisasi masyarakat, instansi swasta, lembaga sosial, kampus-kampus, himpunan dan tentunya rumah sakit menjadi faktor penting penyaluran donasi dapat tersalurkan dengan baik dan tentunya tepat sasaran.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kami sebagai tim pengelola kuliah Kewirausahaan Sosial UGM yang mana juga sebagai tim Penggalangan Dana event SLJJ mengucapkan terimakasih yang sebesarnya kepada pihak-pihak yang sudah berpartisipasi dalam proses penggalangan dana sampai dengan penyalurannya, terutama pada seluruh #orangbaik (Donatur) yang sudah memberikan donasinya yang tidak sedikit sehingga penggalangan dana ini dapat berjalan dengan baik</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <h1 style="text-align: center;"><strong>Donasi Yang Terkumpul</strong></h1> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <h2 style="text-align: center;"><strong>Rp 555.555.555</strong></h2> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p style="text-align: center;">(donasi yang terkumpul tanggal 2 &ndash; 4 Mei 2020)</p>

Selengkapnya
Centangbiru Edisi Kuliah Perdana Kewirausahaan Sosial Semester Gasal 2020/2021

Centangbiru Edisi Kuliah Perdana Kewirausahaan Sosial Semester Gasal 2020/2021

Oleh Yusufia Asmarani Ashar, 2020-10-05

<p>Dipicu oleh keingintahuan kaum muda masa kini mengenai berbagai macam hal mengenai manajemen dan enterpreneurship, UGM dengan menggandeng sejumlah perusahaan dan lembaga multinasional diantaranya Bukalapak, Gojek, Gusdurian, IDNextLeader, Indika Foundation, Innovative Academy, L&#39;Or&eacute;al, Nutrifood, Platform Usaha Sosial (PLUS), Rumah Millennials, dan SabangMerauke yang akan menyelenggarakan Kuliah kewirausahaan sosial batch 2 yang bisa diikuti oleh mahasiswa dan masyarakat umum. KS 2 baru saja mengadakan Kuliah perdana dengan judul &ldquo;Centangbiru&rdquo; pada tanggal 18 September 2020 yang disiarkan langsung pukul 13.30-16.00 WIB melalui kanal youtube Kewirausahaan Sosial sehingga dapat diakses oleh masyarakat umum maupun mahasiswa perserta perkuliahan maupun bukan. Nama Centangbiru merupakan akronim dari &ldquo;Cerita tentang bisnis dan insight terbaru&rdquo;. Sesuai dengan Namanya, kuliah perdana ini menghadirkan 11 CEO perusahaan dan lembaga terkemuka yang akan berkolaborasi dalam pelaksanaan perkuliahan kedepannya. Selain itu, hadir pula Bapak Pratikno selaku Mensesneg RI dan inisiator Kuliah Kewirausahaan Sosial UGM dan Bapak Erwan Agus Purwanto selaku Dekan Fakultas Ilmu Politik UGM.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Rangkaian Kuliah perdana ini cukup berbeda dan tidak seperti perkuliahan biasanya karena berupa talkshow bersama 11 narasumber dan dipandu oleh Bayu Dardias yang merupakan Dosen Pengampu Mata Kuliah Kewirausahaan Sosial. Acara ini dibuka dengan sambutan dari Bapak Pratikno yang sekaligus menyambut 634 peserta terpilih dari ribuan pendaftar mata kuliah yang berasal dari sedikitnya 258 perguruan tinggi dan institusi lain di berbagai daerah di Indonesia. Beliau menegaskan perlunya generasi muda untuk menjadi solusi dari masalah yang ada saat ini, oleh karena itu para generasi muda harus mampu memikirkan bagaimana kita mampu mengidentifikasi permasalahan yang ada di sekitar kita dan memberikan solusi. Beliau juga menekankan bahwa mata kuliah ini dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas menganalisis masalah dan merumuskan solusi yang tepat dengan pertimbangan yang matang melalui berbagai perspektif ilmu. Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan oleh Bapak Erwin Agus Purwanto. Beliau berharap adanya kuliah kewirausahaan sosial ini dapat memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan ide inovatif dan kreatif untuk memajukan Indonesia di masa depan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Dengan beragamnya narasumber yang dihadirkan beserta topik pembicaraan yang juga bermacam-macam, diharapkan kuliah perdana centangbiru dapat memberi banyak pengetahuan dan ilmu baru bagi para mahasiswa kuliah kewirausahaan sosial batch 2 maupun audiens umum. Kedepannya, mahasiswa kuliah kewirausahaan sosial batch 2 akan belajar lebih banyak dan mendetail mengenai topik yang diusung oleh masing-masing kolaborator yang sudah dipilih. Dari ilmu dan pengetahuan baru yang akan didapatkan mahasiswa melalui kewirausahaan sosial batch 2, mereka diharapkan bergotong royong untuk mewujudkan indonesia yang lebih baik dari segala aspek beberapa puluh tahun kedepannya.</p>

Selengkapnya
Ngrobrol Bisnis Bareng Reza Rahadian

Ngrobrol Bisnis Bareng Reza Rahadian

Oleh Yusufia Asmarani Ashar, 2020-08-24

<p>Pada 29 Mei 2020 lalu, mata kuliah Kewirausahaan Sosial UGM mengadakan 3on3 Online Student Pitch Competition yang dibawakan oleh Bapak Widya Prahita selaku perwakilan dari pengelola mata kuliah Kewirausahaan Sosial. Event ini merupakan babak akhir untuk menentukan startup terbaik yang telah dibentuk oleh para mahasiswa selama mengikuti perkuliahan di mata kuliah Kewirausahaan Sosial.&nbsp;</p> <p>Pada acara ini, hadir aktor Reza Rahadian sebagai bintang tamu. Beliau membagikan pengalamannya dalam menjalankan kegiatan sosial bisnisnya. Ternyata selain di dunia film, Reza juga berkecimpung di dunia bisnis hiburan dan properti. Sebelum menjadi aktor besar seperti sekarang, beliau memiliki perusahaan Event Organizer. Namun sayangnya beliau hengkang dari perusahaan tersebut tidak lama setelah terjun ke dunia film. Tidak lama kemudian, Reza bersama manajemennya membentuk sebuah perusahaan mandiri hiburan yang berfokus di bidang perfilman. Di perusahaan yang baru dibuat ini, Reza juga menjadi produser dan sutradara di belakang layar.</p> <p>Menurut Reza Rahadian, keinginannya untuk berbisnis datang dari kesadaran dirinya sendiri. Reza merasa bisnisnya bisa dijadikan tabungan untuk kedepannya. Menurutnya, tidak semua orang harus memiliki bisnis, namun Jiwa enterpreneurship sebisa mungkin harus tetap dikembangkan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Untuk aktivitas sosial, Reza bergabung dalam <em>YAPPIKA</em>-ActionAid, sebuah badan NGO yang berfokus dalam Pendidikan Anak-anak di Indonesia. Beliau bahkan ikut berkontribusi langsung dalam advokasi Pendidikan di daerah-daerah target selama 4 tahun terakhir. Menurut Reza, Pemuda harus berkontribusi kepada lingkungan atau masyarakat karena pemuda merupakan masa depan bangsa. Apa yang mereka lakukan akan menjadi wajah dari negara kita kedepannya.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Di akhir sesi sharingnya, Reza menekankan bahwa kita perlu mengetahui apa yang kita suka dan apa yang kita tidak suka supaya tidak bingung ketika memutuskan apa yang ingin kita lakukan kedepannya. Dari pengalamannya berbagi pengetahuan dengan pimpinan salah satu perusahaan, ternyata pemuda sekarang cenderung kurang memiliki loyalitas terhadap pekerjaannya. Maka dari itu, memahami apa yang kita inginkan sangatlah penting dalam membangun karir kita kedepannya.</p> <p>&nbsp;</p>

Selengkapnya
Revenue Beauty and The Beast

Revenue Beauty and The Beast

Oleh Anik Sri Ernawati, 2020-08-24

<p><em>Revenue Beauty and The Beast</em> dengan topik pembahasan yang berfokus pada apa saja cara yang harus dilakukan oleh Chief Revenue Officer, contoh variasi <em>revenue model</em> dan tentunya model apa yang menarik dan model yang harus dihindari dalam strategi <em>revenue model</em>.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Berlatar belakang dari Cookpad dan Kulina, tentunya pembahasan kali ini juga berdasarkan pengalaman dan strategi dari Cookpad dan Kulina. Di awal pembicaraan, tentunya sebelum membahas bagaimana strategi, Andy menjelaskan apa itu Cookpad dan bagaimana distribusi penggunanya di seluruh dunia.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Andy menjelaskan bahwa sebenarnya, Cookpad sudah ada sejak tahun 1997, bahkan sebelum ada google, sebenarnya sudah ada cookpad, kemudian baru beberapa tahun terakhir Cookpad memulai untuk mengambangkan sayapnya ke seluruh dunia, yang hingga sekarang telah terdapat lebih dari 100 juta pengguna yang tersebar di lebih dari 70 negara dengan 30 bahasa dan jumlah resep yang telah mencapai 6 juta resep. Satu dari dua orang Jepang merupakan pengguna Cookpad dan pengguna Cookpad di Indonesia merupakan pengguna terbesar kedua setelah Jepang, yang mana mencapai 20 juta user.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Penghasilan utama Cookpad berasal dari <em>advertising</em> dan <em>subscription</em> Cookpad. Cookpad juga berfokus pada membuat <em>platform</em> yang menservice pengguna yang meloncati iklan, sehingga memutuskan tidak menerima iklan di Indonesia dan Jepang.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Hal yang menarik dari Cookpad adalah strategi <em>survive</em> yang diterapkan, mengingat banyak sekali kompetitor yang menyediakan resep makanan secara gratis. Andy kemudian menjelaskan <em>common revenue model</em> sebagai pengantar dari jawabannya. Secara umum, sebenarnya terdapat 26 jenis <em>revenue model</em>, namun untuk topik bahasan kali ini, pembahsan hanya lingkup <em>common revenue model</em> yang sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut. Keempat <em>revenue model</em> tersebut adalah:</p> <ol> <li><em>Advertising.&nbsp;</em>Advertising ini berarti bahwa platform mendapatkan profit dari seseorang yang memasang iklan, Dalam hal ini, cookpad juga melakukan hal sama, misalnya advertising berupa brand dari bahan yang digunakan dalam resep.</li> <li><em>Marketplace.&nbsp;</em>Contohnya tokopedia, bukalapak, kulina, yang menggunakan strategi transaction fee, premium listing fee, dan 3rd party fee inside platform, misal kita pesen makanan, dibayar dengan virtual money, maka platform tersebut mendapat komisi dari penyedia jasa visual money tersebut. Jadi ketika usernya sudah banyak maka monetisasinya bisa bermacam-macam.&nbsp;</li> <li><em>SaaS.&nbsp;</em>Value creation bukan dari atom (bahan baku, dimasak, dijual), tetapi dari bites, program komputer yang dijadikan <em>service</em>, yang kemudian dijual, ada <em>subscription</em>, <em>metered</em>, dan <em>freemium</em> yang dapat berbayar maupun gratis. Perbedaan bayar dan gratis di Cookpad adalah jika gratis, tampilan resep akan diurutkan dari atas adalah yang paling baru di <em>upload</em>, sedangkan jika berbayar diurutkan yang paling atas adalah resep yg sudah <em>proofen</em>, yang telah dimasak banyak orang dan telah teruji. Keunggulan Cookpad yg lain adalah bisa <em>search</em> dengan menuliskan bahannya saja, tidak harus nama resep, sehingga pengguna dapat menemukan berbagai resep jenis makanan secara sekaligus dalam satu kali pencarian.</li> <li><em>Commerece</em>. Berkaitan dengan <em>online store</em> yang ada di internet yang jual beli produk, tidak teralu <em>scaleable</em>, karena ada produk fisik, yang mengharuskan upaya produksi yang cukup rumit.</li> </ol> <p>&nbsp;</p> <p>Andy juga menjelaskan, apa yg membedakan Cookpad dengan kompetitior. Simple-nya rahasianya adalah harus terdapat <em>product/market/price fit</em>. Kompetitor lain seperti youtube, google, adalah <em>conten creator</em> yang targetnya hanya di sisi <em>beauty</em>, konten dilihat sebanyak-banyaknya, bukan untuk dipraktekkan. Sedangkan di Cookpad, pengguna yang mencoba-coba resep dan pengguna hanya melihat-lihat, akan terseleksi oleh algoritma Cookpad, dan hal itu dijual ke orang-orang yang mencari resep anti gagal. Cookpad memang tidak memberikan harga untuk akses masuk Cookpad, tetapi memberikan harga untuk algoritma pengurutan resep tersebut. Selama harga tersebut cocok dengan market yang ada, ya tidak akan menjadi suatu masalah.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kalau dibandingkan <em>revenue model</em> Cookpad dengan <em>revenue model</em> Kulina bagaimana? Andy menjelaskan bahwa <em>revenue model</em> kulina lebih ke <em>marketplace.</em> <em>Revenue model</em>-nya yang dijual ke <em>user</em> itu adalah <em>transaction fee</em> dan profit, disini, yang dilakukan kulina adalah optimasi dari <em>delivery cost</em> yang mana tidak ditampilkannya <em>delivery cost</em> secara terpisah, namun, harga yang tampil adalah harga <em>product+profit+delivery fee</em>.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Menurut Andy, satu-satunya cara untuk menentukan harga apakah cocok untuk pangsa pasar tertentu adalah <em>habit test</em>. Melalui internet dapat dilakukan <em>habit test</em>, apalagi masalah <em>pricing</em>, bisa saja kita punya 1 store yang sama, dengan <em>pricing</em> yang berbeda dan ditujukan ke orang yang berbeda pula, nah dari sana bisa dilihat mana yang profit yang tidak.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Selain itu, hal yang cukup penting adalah bagaimana kita tahu ada kompetitor, tahu yang mana yang membuat berhentinya <em>subscription</em>? Bukan hanya masalah harga, tapi bisa saja karena layanan kita yang kurang memuaskan. Ini pertanyaan besar yang membutuhkan beberapa matriks untuk menjawab pertanyaan tersebut. Misalnya ada <em>charmrate</em> yang ada <em>acquisitions product</em> yang mana ada berapa rupiah yang di <em>spend</em> untuk mendapat 1 customer. Ada juga <em>LTV - Live time value</em>, misalnya di cookpad biaya berlangganan dalam 1 bulan sebesar Rp.20,000,- , rata-rata <em>user</em> akan berlangganan selama 2 tahun, kemudian setelah jangka waktu 2 tahun ketika <em>user</em> ini sudah ahli memasak, maka dia akan memutuskan berhenti berlangganan. Nah misalnya Rp.20,000,- ini dikurangi biaya lain-lain, sisa Rp.15,00,-, nah itu yang dinamakan LTV. Penggunaan <em>Ads</em>, misal untuk sekali iklan mengeluarkan biaya Rp.10,000,-, tetap tidak akan menjadi masalah jika akan melakukan iklan 1 juta kali asalkan modalnya bisa kembali. Fokusnya adalah berapa yang akan kita dapatkan selama dia membeli prodak kita dan berapa biaya yang kita keluarkan. Selama LTV ini lebih besar, hal tersebut tidak akan menjadi masalah.</p>

Selengkapnya
Kuliah Kewirausahaan Sosial Batch #2 Lebih Seru!

Kuliah Kewirausahaan Sosial Batch #2 Lebih Seru!

Oleh Anik Sri Ernawati, 2020-08-23

<p>Pada hari Sabtu, 8 Agustus 2020 pukul 10.00-11.30 WIB&nbsp; telah dilaksanakan Koordinasi Pengelola Mata Kuliah KS, Dekanat, dan Pimpinan Kolaborator. Selain beberapa pihak tersebut, hadir juga Prof. Pratikno selaku Wakil dari Mensesneg, Bapak Nizam Selaku Wakil Dari Dirjen Dikti, dan Bapak Erwan Agus Purwanto selaku Dekan Fakultas Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Terdapat cukup banyak kolaborator besar yang terlibat dalam pengadaan mata kuliah ini, yaitu Bukalapak, Gojek, Endeavor, Nutrifood, IDNextLeader, SabangMerauke, PLUS, Indika Foundation, Gusdurian, Rumah Millenials, Kitong Bisa, serta L&rsquo;Oreal. Pada pertemuan ini, masing masing kolaborator diwakili oleh 2-3 orang. Dalam pertemuan yang dilaksanakan daring melalui zoom ini dibahas tentang kontribusi yang akan diberikan oleh para kolaborator pada mata kuliah Kewirausahaan Sosial 2 yang akan berjalan sekitar bulan agustus-desember 2020.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Pertemuan diawali dengan pemutaran video dokumentasi Mata Kuliah KS 1 yang sudah dilaksanakan, dilanjutkan dengan sambutan dari beberapa pihak, yaitu perwakilan mensesneg, fisipol, dan dirjen dikti. Setelah itu, oleh salah satu perwakilan pengelola mata kuliah dipresentasikan detail Mata kuliah yang akan dilaksanakan, antara lain Peserta kuliah, Konsep &amp; alur, serta timeline perkuliahan</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Perkuliahan KS 2 akan cukup berbeda dengan KS 1. Pada KS 1, mahasiswa belajar di kampus dengan para tokoh-tokoh wirausahawan yang terjun langsung dengan bidang industrinya masing-masing. Namun, pada KS 2 mahasiswa akan belajar dengan kolaborator industri dengan metode belajar serta materi yang sudah terbukti efektif.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Perkuliahan KS 2 berfokus dalam melatih mahasiswa dalam bidang leadership, social activist, startup, dan incubator. mahasiswa akan diseleksi berdasarkan formulir pendaftaran yang akan diisi dengan tujuan untuk memetakan minat dan bakat masing-masing mahasiswa. Mahasiswa yang terpilih akan dipercayakan kepada kolaborator untuk belajar dengan berbagai materi dan learning system yang telah disediakan oleh kolaborator. Dengan beragamnya fasilitas pembelajaran yang disediakan oleh para kolaborator, diharapkan para mahasiswa lebih bisa mempelajari materi perkuliahan yang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing mahasiswa.</p> <p>&nbsp;</p>

Selengkapnya